Nama : Ira Sasa Parida
Nim : 12401022
Semester/Kelas : 2/A
Prodi : Pendidikan Agama Islam
Mata Kuliah :Filsafat Pendidikan Islam
Khairunnisyah, M. Pd.
Akhlak Mulia Sebagai Tujuan Pendidikan Islam di Era Modern—Menghadapi Tantangan Nilai Dalam Arus Modernitas
Di ZAMAN sekarang, kita hidup dalam dunia yang serba cepat dan penuh perubahan. Teknologi berkembang pesat, informasi mudah diakses, dan gaya hidup masyarakat pun ikut berubah. Namun, di balik semua kemajuan itu, muncul tantangan besar dalam dunia pendidikan, terutama dalam hal pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Fenomena seperti krisis moral, individualisme, dan lemahnya kesadaran sosial menjadi isu yang semakin nyata di kalangan generasi muda. Banyak anak-anak yang pintar secara akademik, tetapi kurang memiliki sikap jujur, tanggung jawab, atau rasa hormat terhadap orang lain. Inilah yang disebut sebagai krisis moral atau krisis karakter.
Dalam konteks ini, pendidikan Islam memiliki peran penting. Tujuan utama pendidikan Islam bukan hanya membuat siswa menjadi cerdas, tetapi juga membentuk mereka menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Oleh karena itu, topik ini penting dibahas agar kita bisa memahami bagaimana pendidikan Islam bisa tetap relevan dan kuat dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Tujuan dari penulisan esai ini adalah untuk menjelaskan pentingnya akhlak mulia sebagai inti dari pendidikan Islam, mengulas pandangan para ahli, serta menganalisis tantangan dan realita yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Esai ini juga akan memberikan argumen dan harapan agar pendidikan Islam bisa terus menanamkan nilai-nilai akhlak di tengah arus modernitas.
Pendidikan dalam Islam bukan hanya soal mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga soal membentuk kepribadian yang baik. Dalam bahasa Arab, pendidikan disebut tarbiyah, yang artinya adalah proses menumbuhkan dan membina manusia agar berkembang secara utuh— baik akal, hati, maupun perilakunya. Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia seimbang secara intelektual, spiritual, dan moral. Tujuan utama pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Menurut Kurniawan (2022), tujuan pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada pencapaian intelektual, tetapi juga diarahkan untuk membentuk manusia yang utuh secara spiritual, moral, dan sosial. Pendidikan Islam bertujuan mencetak insan yang mampu menjalankan fungsi kekhalifahan di bumi dengan berlandaskan nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia.
Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang menekankan pentingnya akhlak. Salah satunya adalah QS. Al-Qalam ayat 4, yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memiliki akhlak yang agung. Ini menunjukkan bahwa akhlak adalah inti dari ajaran Islam dan menjadi teladan utama dalam pendidikan.
Beberapa tokoh pendidikan Islam juga menekankan pentingnya akhlak. Al-Ghazali, seorang ulama besar, menyatakan bahwa pendidikan harus bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membentuk manusia yang baik akhlaknya. Ia juga menekankan bahwa ilmu tanpa akhlak bisa menyesatkan. Menurut Isbir (2022), konsep pendidikan akhlak dalam kitab Ihya’ Ulumuddin sangat relevan dengan pendidikan karakter saat ini, karena menekankan pentingnya penyucian jiwa dan pembiasaan moral.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir Muslim kontemporer, mengatakan bahwa krisis dalam pendidikan modern bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena hilangnya adab atau akhlak. Menurutnya, pendidikan Islam harus mengajarkan adab sebagai inti dari proses belajar. Huringiin (2022) menambahkan bahwa Al-Attas memandang Islamisasi ilmu sebagai cara untuk mengembalikan makna sejati pendidikan yang terintegrasi antara ilmu dan nilai.
Salah satu masalah besar dalam pendidikan saat ini adalah kurangnya perhatian terhadap pembentukan karakter. Banyak sekolah yang lebih fokus pada nilai ujian, ranking, dan prestasi akademik, tetapi melupakan pentingnya membentuk sikap dan perilaku siswa. Akibatnya, muncul generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam hal moral. Husaini (2018) menyatakan bahwa pendidikan akhlak harus menjadi bagian utama dari proses pendidikan Islam, karena ia membentuk dasar kepribadian dan perilaku siswa dalam kehidupan nyata.
Namun, bagaimana pendidikan Islam dapat tetap relevan di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman?
Pendidikan Islam yang efektif harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan substansinya. Penggunaan teknologi dalam pendidikan Islam, seperti pembelajaran berbasis digital, platform pendidikan online, serta metode interaktif berbasis media sosial, dapat menjadi sarana yang efektif untuk menarik minat generasi muda dalam mempelajari ajaran Islam.
Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, pendidikan Islam dapat lebih mudah diakses oleh generasi muda dan lebih relevan dengan kebutuhan mereka di era modern. Lebih dari itu, pendidikan Islam harus mampu membekali generasi muda dengan pemikiran kritis dan wawasan keislaman yang luas. Dalam menghadapi arus informasi yang begitu cepat, generasi muda harus memiliki kemampuan untuk menyaring informasi, memahami mana yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, serta mampu membedakan antara kebenaran dan kesesatan. Pendidikan Islam harus mendorong generasi muda untuk menjadi individu yang tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga aktif berpikir, bertanya, dan menilai secara kritis.
Selain itu, pengaruh media sosial, budaya populer, dan gaya hidup konsumtif juga membuat anak-anak lebih mudah terpengaruh oleh nilai-nilai luar yang tidak selalu sesuai dengan ajaran Islam. Mereka lebih mengenal tokoh-tokoh selebriti daripada tokoh-tokoh Islam, dan lebih tertarik pada hiburan daripada ilmu dan akhlak.
Di banyak sekolah, pelajaran akhlak sering kali hanya diajarkan secara teori dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Namun, dalam praktiknya, nilai-nilai itu tidak selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa diajarkan tentang kejujuran, tetapi masih banyak yang mencontek saat ujian. Mereka diajarkan tentang tanggung jawab, tetapi sering mengabaikan tugas.
Selain itu, peran guru sebagai teladan juga semakin menantang. Di tengah beban administrasi dan tekanan kurikulum, tidak semua guru mampu menjadi contoh akhlak yang baik bagi siswanya. Padahal, dalam pendidikan Islam, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dan panutan. Munirah (2022) menegaskan bahwa integrasi nilai akhlak dalam seluruh materi pendidikan Islam sangat penting agar siswa tidak memisahkan antara ilmu dan etika.
Jika kita ingin membentuk generasi yang kuat dan beradab, maka pendidikan Islam harus kembali menempatkan akhlak sebagai tujuan utama. Akhlak bukan hanya pelengkap, tetapi fondasi dari seluruh proses pendidikan. Tanpa akhlak, ilmu bisa disalahgunakan. Seorang yang cerdas tapi tidak jujur bisa menjadi ancaman bagi masyarakat.
Pendidikan yang menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan rasa hormat akan melahirkan manusia yang tidak hanya sukses secara duniawi, tetapi juga selamat secara spiritual. Ini sejalan dengan tujuan Islam untuk mencetak insan kamil—manusia yang utuh dan seimbang antara akal, hati, dan tindakan.
Pendidikan Islam memiliki misi besar dalam membentuk manusia yang berakhlak mulia. Di era modern yang penuh tantangan moral dan budaya, peran pendidikan Islam menjadi semakin penting. Akhlak harus menjadi inti dari setiap proses belajar, bukan hanya diajarkan, tetapi juga diteladankan dan dibiasakan.
Agar pendidikan Islam tetap relevan dan kuat, perlu ada upaya bersama dari guru, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kurikulum harus mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dalam semua pelajaran. Guru harus menjadi teladan yang nyata. Sekolah harus menciptakan lingkungan yang mendukung pembiasaan sikap positif. Dengan begitu, kita bisa membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab dan bertanggung jawab.
Referensi:
Huringiin, N. (2022). Syed Muhammad Naquib Al-Attas’ Critics Toward Secularism. Akademika. Jurnal Pemikiran Islam. Vol 27(1). Hal 89-100.
Husaini, H. (2018). Pendidikan Akhlak dalam Islam. Idarah: Jurnal Pendidikan dan Kependidikan. Vol 2(2). Hal 33–53.
Isbir, M., Mardiana, R., & Haris, A. (2022). Relevansi Konsep Pendidikan Akhlak Imam AlGhazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin dengan Pendidikan Karakter Kurikulum 2013. Journal of Education and Islamic Studies.Vol 5(2). Hal 1-14.
Kurniawan, S. (2022). Buku Ajar Filsafat Pendidikan Islam. Pontianak: Top Indonesia -Kalimantan Barat. Hal 25-26.
Munirah, M., Amiruddin, A., & Mumtahanah, M. (2023). Peranan Akhlaq dalam Pembentukan Kepribadian Muslim. IQRA: Jurnal Magister Pendidikan Islam. Vol 3(1). Hal 1–14.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar